PICKWOLF

STRATEGI KEBERADAAN PICKWOLF PADA IKLIM BUDAYA DOMINAN

“Hey! Kau yang berdiri angkuh, dengan tangan menyilang di dada. Berbicara tanpa kepala…”. Sepenggal lirik itu merupakan singkap dari sedikit realita keberadaan iklim persaingan di Kota malang, tulis Pickwolf dalam sesi interview pada majalah ini beberapa waktu lalu. Secara utuh dan musikal, lirik tersebut dapat disimak pada “Musik Sebuah Arena”.

Sejenak lupakan apa yang menjadi kritisi dalam lirik tersebut. “Musik Sebuah Arena” adalah satu dari empat lagu yang hadir dalam “The Art Of Mainstream Epicenter”, sebuah mini album kedua dari pasukan southern rock kota Malang yang menamakan diri mereka Pickwolf. Secara tematik album ini memiliki makna “Perubahan”. Pada sisi lebih luas mereka mengistilahkan album ini sebagai sebuah seni dari bagaimana mereka berusaha membawa perubahan. “Kami ingin menjadi pusat [epicenter] dari perubahan atas budaya dominan [mainstream]. Meskipun tidak dari segala bagian.

“The Art Of Mainstream Epicenter” resmi dikenalkan ke publik pada awal tahun 2010, tepatnya bulan januari kemarin. Sebelumnya, pada Desember 2009 mereka sempat menyebar beberapa CD dan mengenalkan materi ini pada event eavy Fest [20/12/09].

Nada Musika Studio dibawah tangan dingin Ayok [Screaming Factor] sebagai seorang engineer masih menjadi tempat dan orang yang dipercaya untuk menangani proyek kedua band ini. Terhitung mulai awal Oktober 2009, mereka sudah mengumpulkan materi yang kemudian dimantapkan hingga awal Desember. Proses recording “The Art Of Mainstream Epicenter” sendiri hanya memakan waktu dua hari. Sebuah pekerjaan yang sangat cepat sekali untuk empat materi lagu. Karena mereka tidak mengalami kendala dalam proses recording. Hanya saja, kendala ditemui saat proses adaptasi vokalis baru mereka. Hingga akhir Desember mini album ini benar-benar fix dan layak untuk dirilis.

Keluarnya mini album kedua ini setidaknya memantapkan keberadaan Pickwolf di kota Malang. Dalam jangka waktu tiga tahun sejak terbentuknya Pickwolf pada pertengahan 2007 lalu, mereka sudah berani dan berhasil mengeluarkan karya-karya musikalitas yang orisinil yang tidak terpengaruh pada popularitas jenis musik yang sedang berkembang di kotanya. Meskipun hanya dalam bentuk mini album, namun karya ini merupakan strategi eksistensi dari sebuah band yang tidak hanya besar karena nama saja dan ini bukti bahwa mereka tidak setengah-setengah membentuk Pickwolf.

Melanjutkan program dari Sample Audio 2009 yang merupakan mini album pertama, Pickwolf tetap melakukan rancangan distribusi atau pemasaran yang sama untuk “The Art Of Mainstream Epicenter”, yaitu memberikan mini album ini secara gratis dan tentunya ini satu penawaran berani sebagai sounding dari apa yang ditawarkan Pickwolf dalam komposisi southern rock-nya. Strategi distribusi non-komersil ini mereka istilahkan dengan “perjudian”. Dimana terdapat dua pilihan antara meng-gratis-kan atau sebaliknya. Voting pun akhirnya mereka lakukan untuk mengambil keputusan.

Mengingat, karakter pendengar saat ini tidak terlalu berminat dengan karya otentik [fisik CD]. Terutamanya apakah mereka bersedia atau tidak memiliki mini album ini jika dikomersilkan?!. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang akhirnya memantapkan strategi distribusi album ini.

Diharapkan dengan sistem ini mereka berusaha untuk menjaring relasi yang kuat dengan pihak luar, maupun label. Dengan strategi ini pun mereka lebih leluasa memilih siapa-siapa yang harus mengetahui karya mereka. Termasuk pihak mayor label yang mereka anggap sebagai tantangan untuk ditembus.

Lepas dari strategi dan obsesi itu, Pickwolf tetap mendokumentasikan audio mereka dalam bentuk fisik cakram padat, namun jumlah produksinya sangat terbatas. Dengan melakukan press CD paling tidak mereka berharap karya mereka lebih dihargai, memorable, dan tentunya otentitas karya yang tidak akan hilang.

Keterbatasan dalam jumlah produksi ini kemudian disiasati dengan menyiapkan soft file audio yang kemudian di upload pada akun-akun jejaring sosial yang mereka miliki dan dari media tersebut nantinya publik diberi akses lebih luas untuk mengunduh empat materi yang hadir dalam “The Art Of Mainstream Epicenter”. Usaha meng-upload audio file pada situs jejaring sosial ternyata membawa dampak positif. Salah satunya adalah adanya tawaran untuk show di beberapa negara. Tapi karena proses negoisasi yang alot dan juga karena prosedur keberangkatan, akhirnya mereka menunda rencana tersebut. Sampai saat ini pihak Pickwolf belum bisa mengkonfirmasikan negara mana saja yang mengundang mereka.

Selain “Musik Sebuah Arena”, tiga materi baru yang mereka tawarkan di mini album ini termasuk juga “Asimilasi Budaya Millenium Ketiga”, “Stop This Fuckin False Rock ‘n Roll Episode”, dan “Face To Fake”.

Sejak awal memunculkan karyanya, band ini sangat terkonsentrasi mengenai penulisan judul dan lirik dalam karya-karya mereka. Keberadaan lirik seharusnya bisa menjadi pengaruh atau inspirasi buat orang lain. Hal itu juga diharapkan oleh mereka, mengapa selain mendengarkan Pickwolf secara musikalitas harus dibarengi dengan membaca liriknya pula?. Tapi kenyataan itu bertolak belakang saat ini, karena menurut mereka kebanyakan pendengar sekarang tidak peduli lirik maupun pesan yang dibawa. Ketika membaca lirik pada materi “The Art Of Mainstream Epicenter”, mungkin sebagian orang merasa absurd [semoga tidak ambigu, red.] dengan prosa ilmiah campuran versi Pickwolf. Tapi, menurut mereka itu adalah faktor kebiasaan yang kemudian menjadi ciri khas penulisan lirik. Seperti pada penggalan lirik ini yang dicomot dari line lirik “Musik Sebuah Arena”. “Let we soar our wings, with threatless on that way. You know how many diamonds will be lost anymore?”.

Semantik kata “Diamonds” ternyata terjun jauh dari harfiah diamonds yang sebenarnya. Menurut mereka justru “Diamonds” mewakili sosok-sosok yang harusnya membawa dampak positif bagi kelangsungan sebuah kelompok, tetapi malah terdesak dengan alasan yang tidak rasional. Karena terkadang sebuah ide brilian tidak akan bernilai bila tidak didukung jumlah suara yang cukup. Sedangkan makna yang lebih luas dari line lirik tersebut seperti sebuah ungkapan, seolah tidak habis pikir dengan perilaku pembunuhan ide dan karakter yang sudah jamak dilakukan. Gampangnya, mereka [kami] ingin diberi ruang untuk berkreasi, tidak ada justifikasi yang berlebihan dan akhirnya mengurangi kemauan talenta-talenta baru untuk berkembang. Seperti di awal tulisan dikatakan bahwa lagu ini adalah kritisi dari realita kerasnya persaingan di Kota Malang.

Adalah Anang Porwoko [Drum] sosok intelektual yang banyak menuliskan lirik-lirik dalam karya Pickwolf. Tanpa harus mengesampingkan peran Yunus [vokal], Angga [gitar], Christian [gitar], dan Wira [bass] yang pula menjadi mesin kreatif dan sekaligus great composer di proyek-proyek Pickwolf saat ini dan kedepannya. Mengutip pendapat dari Arian 13 [Seringai], “Jika musik bisa menjadi senjata, sementara amunisinya adalah lirik”.

Pickwolf sepertinya menerjemahkan dengan baik dari apa yang dikatakan Aldo Sianturi [Aksara Record] dalam sebuah workshop musik yang intinya adalah jangan memaksa untuk membuat full album jika memang belum cukup mampu secara materi apalagi belum cukup dikenal ditelinga lokal. Lakukan dengan hal kecil dahulu seperti membuat mini album, tapi rutin. Strategi itu sudah terlaksana, latihan rutin, mengumpulkan materi untuk rilisan selanjutnya dan membicarakan segala hal yang berhubungan dengan kelangsungan Pickwolf serta membuat peran setiap individu untuk mengolah segala info maupun ide menjadi sesuatu yang tidak membosankan adalah yang mereka kerjakan untuk keberadaan band ini. Selain itu, permasalahan komunikasi antar personal juga sangat mereka perhatikan dan menjadi sangat penting demi mengantisipasi resign-nya personil. Mengatasinya pun mudah, mereka berkumpul, ditambah beberapa botol beer sambil bertukar pendapat, beres. Case closed!

NUANSA HARDROCK PADA VOKAL DAN LOGO BARU

Pickwolf yang dibentuk pada pertengahan 2007 lalu akhirnya harus melepaskan seorang Awang pada posisi vokalis. Sosok pria tambun ini pun cukup lama melibatkan dirinya dalam keluarga besar Pickwolf. Resign-nya Awang dari Pickwolf sebenarnya dikarenakan oleh tuntutan masa depan, yaitu pekerjaan. Menurut beberapa personil Pickwolf yang tersisa, Awang merupakan pribadi yang mandiri dan memiliki kebutuhan hidup lebih dari personil yang lain. Karena sama-sama tidak ingin kehilangan waktu akhirnya keputusan seimbang pun harus mereka putuskan. Yaitu, melepaskan Awang demi masa depan pribadi. Walaupun tak dipungkiri, kalau personil-personil yang lain pun memiliki kesadaran untuk urusan kehidupan.

Tiga tahun tidak menjadi sia-sia bagi Awang. Kontribusinya dapat disimak ketika Pickwolf mengeluarkan “Sample Audio 2009” dimana karakter vokal yang cukup gahar dan mengarah pada screaming metal tentunya sempat membentuk image dalam karya Pickwolf. Walaupun secara fisik memiliki tubuh yang terbilang besar jika dibandingkan personil-personil lainnya, Awang bisa tampil atraktif diatas panggung dan membangun komunikasi aktif dengan penonton, baik itu dalam acara skala kecil maupun besar dan bulan Oktober 2009 merupakan panggung terakhir untuk Awang. Yaitu, ketika Pickwolf menjadi line up dari launching salah satu band alternatif rock dari Surabaya. Tapi inilah sebuah pilihan dan yang terjadi saat ini posisi vokal Awang telah tergantikan.

Seorang Yunus bukan nama baru di komunitas musik indie Malang. Karena sebelum resmi bergabung di Pickwolf, Yunus merupakan vokalis dari band Childhood Trauma. Band yang mengklaim style bermusik mereka dengan sebutan “Art Of Arema Hardcore”, yaitu perpaduan antara roots hardcore yang melintasi jalur southern rock dan sedikit jazzy.

Pickwolf tak harus menghabiskan energi dan waktu untuk merekrut seorang Yunus masuk dalam skuad band ini. Proses negoisasi dilakukan hanya memakan waktu sekitar dua minggu untuk meminang Yunus. Cepatnya masa audisi dan keputusan ini dikarenakan oleh kebutuhan. Artinya standar-standar vokalis yang dibutuhkan oleh Pickwolf ternyata ada pada pribadi seorang Yunus. Baik secara kualitas suara, performance, maupun pola pikirnya yang lebih luas dan berbeda. Selain itu, Pickwolf membutuhkan seorang vokalis yang mampu menjadi atau lebih tepatnya frontman bagi personil-personil yang lain, yang nantinya mampu mendongkrak performa band baik dipanggung maupun diluar panggung.

Kemampuan beradaptasi dan mampu berimprovisasi menjadikan nilai plus bagi Yunus untuk langsung diajak dalam proyek mini album ini. Sehingga kesan terpaksa ketika Pickwolf mengeluarkan mini album ini jadi termentahkan.

Perbedaan range suara dari kedua vokalis ini sebenarnya tidak terlalu berbeda membentuk karakteristik musik Pickwolf. Hanya saja karakteristik vokal yang cenderung ke arah screaming/ high pitch kini sedikit berkurang terganti dengan style vokal Yunus yang lebih mengarah pada karakteristik hardrock yang emotional. Mengenai hal ini, mereka memastikan bahwa setiap orang memiliki karakter dan referensi yang berbeda. Karena itu, dengan masuknya Yunus sudah pasti membawa warna baru bagi Pickwolf.

Selain melakukan reformasi pada posisi vokal, Pickwolf juga melakukan re-touch pada logo. Perubahan logo ini berhubungan dengan perubahan Pickwolf dalam hal musikalitas. Mereka berusaha menerjemahkan musik mereka melalui logo. Secara visual, baik dalam bentuk maupun pemilihan warna, logo baru pada “The Art Of Mainstream Epicenter” terlihat sederhana dengan karakter font yang punya karakter keras dan terbaca jelas. Karakteristik stone yang terlihat cacat pada permukaannya seolah memberikan kesan akan kerja keras dan totalitas yang tak terbayarkan untuk keberadaan band ini. [gve]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s